25 Kampus di Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial atau Pekerjaan Sosial

Image
Pekerjaan Sosial Di Indonesia
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial menyebutkan bahwa Pekerja sosial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi. 
Pekerja sosial dalam praktik pertolongannya berupaya untuk mencegah keterbatasan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam menjalankan keberfungsian sosialnya.
Sebelum disahkannya Undang – Undang tentang Pekerja Sosial, kerap terjadi kerancuan mengenai siapa dan apa itu pekerja sosial.
Dengan hadirnya undang – undang pekerja sosial, maka yang dimaksud dengan pekerja sosial dalam undang – undang tersebut adalah pekerja sosial sebagai profesional, bukan sebagai relawan atau pun suatu jabatan, meskipun diantara istilah tersebut dapat melekat pada satu orang tertentu.
Untuk menjadi pekerja sosial sebagaimana dimaksud dalam undang- undang, maka diharuskan menempuh Pendidikan profesi Pekerja Sosial, setelah se…

PELUANG DAN TANTANGAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL



Kondisi Indonesia 


Indonesia merupakan negara besar dan berada pada posisi yang sangat strategis. Secara geografis dan geopolitis, Indonesia menjadi ‘Crossing gates’  (jembatan penghubung) bagi kehidupan pada 2 (dua) benua, yaitu Asia dan Australia, serta jalur pelayaran yang menghubungkan 2 (dua) samudera, yakni Pasifik dan Hindia. Disamping itu, kandungan mineral yang tersimpan pada perut buminya pun bisa dikatakan ‘masih’ potensial, lalu ada kawanan perairan dan kelautan yang indah dan beranekaragam, belum lagi panorama, kesuburan tanahnya menjadikan alam inidonesia kaya akan daya tarik, serta banyaknya jumlah penduduk (jelang bonus demografi) menjadi sumber tenaga sekaligus menjadi pasar tersendiri.

 

Tidak bisa kita hindari masuknya agenda ‘digital’ di Indonesia. Mulai dari generasi milenial, generasi xyz, dan generasi baby boomers, hingga yang lebih salaf sekalipun, tidak dipungkiri lagi bahwa hampir semua generasi tersebut menggenggam android, IoS, serta android dan IoS sekaligus. Mungkin hanya orang-orang seperti bruce banner saja, yang sedang melarikan diri agar tidak dapat terlacak keberdaannya termasuk oleh golden eye (baca : intaian kamera digital), yang tidak menggunakan perangkat digital apapun dalam kesehariannya.

 

Banyak hasil penelitian menyebutkan kondisi kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi. Untuk yang masih penasaran, bolehlah tengok hasil penelitian lembaga indpenden maupun dari Pemerintah, baik yang dilaporkan ke World Bank, ADB (Asian Development Bank) maupun lembaga funding lainnya atau pun tidak terkait pertumbuhan ekonomi, tingkat Kesejahteraan di Indonesia, atau lainnya dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, secara indeks kebahagiaan orang Indonesia terbilang cukup tinggi. Sehingga menjadi anomali tersendiri dimana tigkat materi sebagai ukuran kesejahteraan, tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan di Indonesia.

 

Kondisi Terkini

 

Berkembangnya teknologi informasi mempermudah akses bagi siapa pun untuk memperoleh data apa saja, darimana saja dan pada saat kapan pun diinginkan. Bahkan individu-individu yang melek IT dan rajin ‘surfing’ bisa saja lebih menguasai medan pertempuran atau ajang perlombaan saat ini. Oleh karenanya kita tidak boleh hanya diam dan berharap tetesan air yang timbul dari trickle down dari derap laju pembangunan, harus aktif, cepat, tepat dan responsif.

 

Masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan dan yang harus dijangkau oleh pembangunan. Sangat sulit bagi pembangunan untuk menjangkau semua. Berharap - harap untuk dapat setetes proyek pembangunan tetapi terlupakan, kan lebih ‘sakit’ dari pada sudah memiliki proyek sendiri terus diminta untuk iuran pajaknya, iya nggak ? hehehe... ssst, jangan keras-keras ketawanya, ntar kedengaran kantor pajak.

 

Terkadang untuk berubah orang tidak perlu alasan. Kadang ada yang jawab “nunggu wahyu aja”, ditanya wahyu datangnya dari mana atau dicarinya dimana, bingung jawabnya. Nah seperti itulah kira-kira, jadi kalau mau berubah lebih baik ya mulai aja. Tapi memang lebih baik lagi kalau wahyunya ketemu, tujuannya ketemu dan langkah-langkahnya juga sudah ada sketsanya. Dicatat ya!, LEBIH BAIK, bukannya HARUS. Jadi yang penting apa pun makanannya, minumnya itu harus niat dulu ! dimulai niat menjadi wirausahawan sosial ? kenapa tidak ?!

 

 

Apa itu Kewirausahaan Sosial ?

 

Pengertian Singkat

 

Secara sederhana kewirausahaan sosial mengandung unsur-unsur berikut :

1.     aktivitas berbisnis dengan maksud dan/ atau cara untuk memecahkan masalah sosial;

2.     menggunakan empati dalam pelaksanaannya;

3.     menguatamakan social capital (trust dan jaringan) yang ada/ tersedia disekitar.

 



Jadi Kewirausahaan sosial merupakan aktivitas kewirausahaan yang dilakukan bukan hanya untuk mengejar keuntungan semata, tapi juga untuk memberi solusi atas permasalahan sosial yang ada seperti pengangguran, kemiskinan, ketimpangan dan kualitas lingkungan yang buruk, serta lainnya.

 

Sedangkan wirausahawan sosial adalah orang yang menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan untuk membangun usaha atau organisasi dan memberikan perubahan sosial. Bukan malah orang yang menjual orang susah atau menjual kesusahan orang lain untuk kepentingan pribadi atau kepentingan tertentu.

 

Kesalahpahaman Umum

 

Jadi meskipun sebagian besar pelaku kejahatan dihukum penjara, namun banyak juga yang dipenjara adalah pelaku kebaikan. Maaf ini bukan copy paste yang belum diedit, tapi ini sedikit intro yang nggak jelas... sambil bersiap mencari secangkir kopi dulu ya. Nah beberapa asumsi salah atau setidaknya kurang tepat mengenai aktivitas wirausaha antara lain :

 

Kewirausahaan identik dengan berdagang

 

Asumsi ini tidak sepenuhnya salah, meskipun juga tidak benar seperti itu. Wirausaha bisa dilakukan melalui berdagang maupun beraktivitas lain, misalnya menyediakan jasa/ layanan, penyediaan lapak/ tempat/ template, atau lainnya dan bisa juga di kombinasikan dengan minat dan keterampilan mendukung yang sudah dimiliki sebelumnya.

 




Kewirausahaan identik dengan membuka toko/kios

 

Faktanya di era digital sekarang toko dan pasar tidak melulu berada di sutau kawasan dan berbentuk bangunan fisik. Menjual atau menawarkan barang atau jasa dapat dilakukan melalui media sosial, e-commerce, atau lainnya. Sehingga meminimalisir cost yang harus dikeluarkan terkait sewa bangunan toko/ kios.

 

Kewirausahaan identik dengan meminjam uang di bank sebagai modal

 

Setiap memulai usah tentu memerlukan modal, demikian hukum ekonomi mengatakan, dengan modal kecil bolehlah beroleh untung besar. Namun yang perlu dicatat adalah modal itu tak sepenuhnya berbentuk uang atau dana, dan tidak selalu harus meminjam dari perbankan atau lembaga keuangan. Meskipun semua itu boleh saja dilakukan. Lantas dari mana ? modal barang, bisa didapat melalui pengrajin yang memang ‘kesulitan’ memasarkan barang dengan sistem bagi hasil misalnya. Tidak sedikit produsen kerupuk, keripik atau lainnya yang menitipkan barang produksi di tempat-tempat yang ada, dan baru berhitung laba dan bagi hasil berdasarkan hasil produk yang laku terjual. Dana bisa diperoleh dengan menawarkan investasi kepada kerabat atau sahabat yang ‘kelebihan’ anggaran atau ingin membangun usaha tapi bingung mau memulainya darimana. Tentu dengan sistem pembagian hasil (keuntungan/ kerugian) yang ditanggung dan disepakati bersama. Untuk sampai tahap ini mungkin jauh lebih penting adalah trust (rasa percaya) dibanding grant (jaminan) dari anda sebagai pelakunya.

 

Prinsip Kewirausahaan

 

Ada 3 prinsip sederhana yang harus menjadi perhatian para wirausahawan, termasuk dalam kewirausahaan sosial, yaitu creating opportunity (membuat peluang); innovation (membuat hal-hal baru); dan calculated risk taking (memperhitungkan setiap risko).

 

Membuat peluang

 

Peluang adalah momentum abstrak yang dapat terjadi kapan saja. Pada situasi tertentu peluang mungkin dapat diprakirakan, dan pada situasi lainnya juga dapat ‘direkayasa’ untuk menjadi sebuah kenyataan. Contoh sederhana berjualan air dalam kemasan. Kita tidak tahu orang kapan orang akan memerlukan air minum (dalam kemasan), pada situasi ini menjual air kemasan bagi orang yang memerlukan dapat terjadi kapan saja. Tetapi sudah dapat diprakirakan bahwa orang memerlukan dan akan membeli air minum (walaupun itu dalam kemasan) pada saat kehausan (utamanya), mungkin juga selepas makan, atau pada saat istirahat dan berkumpul bersama. Situasi yang dapat ‘direkayasa’ untuk memastikan banyak orang membeli air kemasan yaitu pada saat setelah makan, maka menjadi lebih tepat menyediakan untuk dijual air minum kemasan di warung-warung makan atau restoran tentu dengan bekerjasama dengan empunya warung misalnya, karena ada juga warung atau restoran yang mengkalkulasi setiap komoditi yang disediakan didalamnya, termasuk air minum mineral (air putih) dalam gelas sekalipun.

 

Innovation

 

Hal penting lainnya adalah membuat pengembangan produk. Perubahan teknologi mempengaruhi gaya dan pola hidup masyarakat luas. Tuntutan akan adanya hal – hal baru menjadi sangat beragam, terutama dengan memperhatikan faktor – faktor efektif dan efisiensi dari produk barang/jasa yang ditawarkan, misalnya dalam menyediakan media komunikasi dari telepon kabel menjadi telepon genggam (Hp) lalu menuju era android dan ios. Keterjangkauan harga dan kualitas produk barang/jasa tersebut, seperti masyarakat membandingkan antara satu jenis produk barang/jasa yang ditawarkan pada satu toko dengan toko lainnya karena adanya misal potongan harga, ongkos pengiriman atau cara pembeliannya, termasuk jaminan atau garansi yang ditawarkan. Semua itu merupakan bagian dari inovasi yang bisa dilakukan pada produk yang ditawarkan, cara memasarkannya, atau hal-hal lainnya.

 

Calculated risk taking

 

Tentu yang menjadi penentu kebijakan, pelaksana teknis dilapangan, pengendali usaha dan pemiliki risiko terbesar adalah si pelaku usaha. Berbeda dengan pekerja, yang lebih dominan bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis dilapangan dan hasil yang telah ditentukan oleh direksi diatasnya. Oleh karena itu, seorang wirausahawan termasuk pelaku kewirausahaan sosial harus dapat mengkalkulasikan risko-risiko yang mungkin terjadi, bisa berupa keuntungan atau kebaikan, maupun kerugian yang mungkin ditimbulkan, serta bagaimana cara menyikapinya. Keuntungan dan kerugian dalam kewirausahaan sosial tidak melulu dilihat dari faktor ekonomisnya saja, tetapi akan lebih luas lagi seperti relasi sosial dengan jejaring yang ada, tingkat kepercayaan lingkungan terhadap pelaku usaha, termasuk sanksi berupa norma sosial atau bahkan norma adat yang berlaku di wilayahnya berada.

 

 

Perbedaan Kewirausahaan Sosial dengan Lembaga Nirlaba dan Perusahaan Komersil


Organisasi Nirlaba


Tujuan menjalankan misi sosial; Pendanaan umumnya berasal dari donasi, amal atau dana hibahSasarannya masyarakat sebagai beneficieries (penerima manfaat); Biaya atas produk berupa barang atau jasa diberikan secara gratis atau mengganti administrasi pokok saja.


Perusahaan Komersil


Tujuan optimalisasi LabaPendanaan umumnya diperoleh melalui saham atau pinjamanSasarannya masyarakat sebagai konsumen (pengguna yang membutuhkan atau menginginkan); Biaya atas produk barang atau jasa dijual berdasarkan mekanisme pasar.


Kewirausahaan sosial


Tujuan memungkinkan untuk optimilisasi Laba dengan tetap memikirkan dampak usaha terhadap masyarakat/LingkunganPendanaan bisa melalui saham, pinjaman, donasi, amal, dana hibah dan dana sosial lainnya; Sasarannya  masyarakat binaan, masyarakat lokal, atau masyarakat secara luas sebagai beneficieries, konsumen, atau beneficieris dan konsumen sekaligus; Biaya atas produk barang atau jasa dijual sesuai mekanisme pasar.



Memulai Kewirausahaan Sosial

 

Untuk memulai kewirausahaan sosial, ada baiknya kamu menjawab dulu bagaimana cara menjawab 4 (empat) tahap yang ada berikut :

 

Masalah sosial dan peluang ekonomis


Adakah masalah sosial yang ada disekitar kamu ? kira – kira dari masalah tersebut peluang bisnis atau usaha apa yang dapat dilakukan ? Oleh karena itu perlu kamu mengidentifikasinya, sehingga akan diperoleh ranking masalah sosial yang ada dan potensi ekonomis yang dapat dilakukan. Perangkingan dapat dicari dengan melihat masalah sosial terkecil/ ringan namun berpotensi secara ekonomis, hingga masalah sosial terbesar yang ada namun sangat tidak ekonomis untuk dijadikan usaha.

 

Solusi yang ditawarkan

 

Setelah kamu mengidentifikasi masalah dan peluang ekonomis dan kamu dapatkan hasil perankingannya. Lantas apa yang akan menjadi prioritas kamu, komunitas kamu, atau kelompok kamu yang akan ditawarkan kepada calon penerima manfaat, masyarakat atau stakeholder yang ada untuk menjadi solusi sekaligus usaha ekonomis. Contoh disebuah desa ABC, yang menjadi masalah bagi petani semangka adalah pemasaran (biaya angkut, cari pembeli, dan ongkos-ongkos lainnya), peluang ekonomisnya adalah menjual semangka tentunya. Maka dibuat iklan “makan semangka sepuasnya hanya dengan Rp. 10.000,- Stok terbatas, Syarat dan Ketentuan berlaku”, untuk memancing warga yang ingin menikmati semangka dengan harga terjangkau, bisa sambil bawa keluarga ke lokasi. Sehingga semangka habis, selama masa berlaku, area kebun menjadi destinasi wisata dadakan, mengundang datangnya pasar dadakan.

 

Pihak yang dilibatkan

 

Sebelum memulainya, kamu juga harus memperhatikan siapa pihak – pihak potensial yang akan dan perlu dilibatkan dalam usaha yang akan kamu rintis. Pihak potensial bisa berasal dari pemilik masalah, bisa juga berasal dari pihak yang dapat memberikan dukungan atas solusi yang kamu tawarkan. Tetapi yang perlu kamu pastikan, mereka semua memahami inti usaha yang akan kamu lakukan, sehingga tidak terjadi salah persepsi dan terjadi kekecewaan nantinya.

 

Sistem atau model bisnis sosial

 

Ada banyak sistem dan model bisnis sosial dalam menerapkan kewirausahaan sosial. Tergantung pada siapa penyelenggara dan sponsor atau pendukung utama yang ‘melabelinya’. Namun secara umum kamu dapat menentukan akan mengadopsi sistem manakah kewirausahaan sosial yang kamu bangun itu. Berikut merupakan beberapa model-model bisnis:

  • model kewirausahaan sosial yang metode operasional (program sosial) - nya terintegrasi  dalam kegiatan usaha;
  • model kewirausahaan sosial yang model opersional (program sosial) - nya bersinggungan dengan kegiatan usaha; dan
  • model kewirausahaan social yang model operional (program sosial) - nya terpisah dengan kegiatan Usaha.

 

 

Kesimpulan

 

Untuk memulai kewirausahaan sosial tentu memiliki banyak tantangan. Seperti memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan tetapi belum mempunyai mental dan keterampilan wirausaha, atau sudah memiliki bisnis yang sudah berkembang dan maju, tetapi jiwa empati dan sosial lemah. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya – upaya untuk membangun mental wirausaha dan kesadaran social; meningkatkan keterampilan berbisnis; serta menggali modal finansial sekaligus modal sosial. ~sosioinjeksi's~

 


Popular posts from this blog

Enam Prinsip Dasar Pertolongan Kemanusiaan

21 Jenis Pelayanan Yang Meningkatkan Kesejahteraan

Masih Cari Judul

Pekerja Sosial sebagai Profesi Profesional

Merangkul dan mendorong Perilaku Positif Bagi Korban Penyalahgunaan Narkoba

Menumbuhkan Kewirausahaan Sosial Penting

25 Kampus di Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial atau Pekerjaan Sosial

HAK-HAK PEREMPUAN, RINGKASAN REGULASI PEMERINTAH INDONESIA

Dukungan Psikososial

Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu : SLRT dan Puskesos