25 Kampus di Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial atau Pekerjaan Sosial

Image
Pekerjaan Sosial Di Indonesia
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial menyebutkan bahwa Pekerja sosial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi. 
Pekerja sosial dalam praktik pertolongannya berupaya untuk mencegah keterbatasan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam menjalankan keberfungsian sosialnya.
Sebelum disahkannya Undang – Undang tentang Pekerja Sosial, kerap terjadi kerancuan mengenai siapa dan apa itu pekerja sosial.
Dengan hadirnya undang – undang pekerja sosial, maka yang dimaksud dengan pekerja sosial dalam undang – undang tersebut adalah pekerja sosial sebagai profesional, bukan sebagai relawan atau pun suatu jabatan, meskipun diantara istilah tersebut dapat melekat pada satu orang tertentu.
Untuk menjadi pekerja sosial sebagaimana dimaksud dalam undang- undang, maka diharuskan menempuh Pendidikan profesi Pekerja Sosial, setelah se…

Merangkul dan mendorong Perilaku Positif Bagi Korban Penyalahgunaan Narkoba

Indonesia dan Penyalahgunaan Narkoba


Indonesia  merupakan salah satu daerah atau wilayah yang menjadi target pasar utama bagi jaringan peredaran narkotika dunia. Angka kasus penyalahgunaan Narkotika, obat-obatan dan zat adiktif (Narkoba) di Indonesia cukup tinggi.


Pada tahun 2017, BNN menyebutkan bahwa jumlah penyalahguna NAPZA di Indonesia diperkirakan sebanyak 3 juta orang pada kelompok usia 10-59 tahun. Jenis yang paling banyak beredar dan dikonsumsi adalah ganja, shabu, dan ekstasi. Tingkat ekonomi pengguna bervariatif, mulai dari sosio-ekonomi rendah hingga kalangan ekonomi atas. Pelaku penyalahgunaan narkoba umumnya adalah para pelajar dan mahasiswa. Namun tidak jarang pula barang haram tersebut pun menjerat berbagai kalangan profesional seperti dokter, pengacara, polisi, guru, artis, bahkan anggota dewan dan politikus. Bahkan saat ini penyebaran sudah menyebar pada masyarakat pinggiran kota dan pedesaan.


Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, menyebutkan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sementara psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Bahan atau zat adiktif yang dimaksud adalah bahan-bahan selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan seperti rokok dan alkohol.


Dampak Negatif Narkoba Terhadap Biopsikososial Penggunanya


Penyalahgunaan narkotika, memiliki dampak buruk bagi keseimbangan pada sistem biopsikososial seseorang.  


Dampak biologi

  • Merusak organ tubuh, seperti hati dan ginjal;
  • menimbulkan penyakit kulit, seperti bintik merah dan kudis; 
  • merusak susunan saraf pusat;
  • mengalami gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, dan kerusakan permanen pada otak;
  • pupil mata melebar menyebabkan penyalahguna sulit tidur (insomnia), dan gangguan reaksi dalam penglihatan;
  • jantung berdegup cepat yang berakibat pecahnya pembuluh darah; dan 
  • nafsu makan turun sehingga daya tahan tubuh menurun yang menyebabkan penyalahguna mudah sakit serta terganggunya metabolisme tubuh.


Dampak psikis

  • Menimbulkan rasa depresi, paranoid, dan ketergantungan yang berujung pada munculnya sugesti (ketergantungan);
  • merasa tidak percaya diri, gelisah, dan sebagainya;
  • terganggunya perasaaan, pikiran, dan perilakunya; dan
  • gangguan kejiwaan sementara atau bahkan permanen.


Dampak Sosial

  • Terganggunya sistem sosial penyalahguna dengan lingkungannya;
  • menyebabkan seseorang menjadi cenderung untuk menarik diri dari lingkungan karena takut ketahuan menyalahgunakan NAPZA;
  • mendorong perilaku tindak kriminalitas karena kebutuhan untuk membeli narkotika; dan
  • cenderung sering berbohong kepada orang-orang sekitarnya.


Berbagai masalah yang timbul karena penyalahgunaan narkoba tentu perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan atasperedarannyaserta pemulihan bagi siapa saja yang menjadi korbannya.


ilustrasi desperate (www.pixabay.com)

Pengalaman Belajar dari Klien AD dan Pekerja Sosial di Panti Rehabilitasi


Kementerian Sosial merupakan salah satu lembaga yang menyediakan layanan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba. Dalam pelaksanaan rehabilitasi, Kementerian Sosial melibatkan pekerja sosial sebagai pelaksana teknisnya. Berdasarkan pengalaman berkunjung ke salah satu panti rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba, dapat diceritakan hal-hal berikut :


Profil AD


Seorang laki –laki berusia 31 tahun berasal dari Medan. Pendidikan terakhir setingkat sekolah menengah atas dengan berprofei sebagai photografer. Latar belakang pekerjaan orang tua adalah pensiunan pada salah satu perushaan BUMN dan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). AD telah mengkonsumsi narkotika selama 10 tahun, dan jenis narkotika yang dikonsumsinya adalah ganja, ekstasi dan shabu. Latar belakang yang menyebabkannya mengkonsumsi narkotika adalah lingungannya.


Praktik Pekerja Sosial terhadap AD


Identifikasi Masalah

Faktor penyebab AD menjadi korban penyalahgunaan narkoba  diakibatkan oleh pergaulan lingkungannya. Mayoritas teman teman dia bermain di Kampus merupakan pemakai dan pengedar narkoba.

Pada awalnya AD menggunakan narkoba hanya berniat coba coba, namun lama kelamaan menjadi kecanduan. Alasan lainnya ialah dengan menggunakan narkoba AD beranggapan bahwa ia dapat meningkatkan kreativitasnya di bidang fotografi yang menjadi hobinya.

Berdasarkan catatan pekerja sosial, AD merupakan pengguna narkoba jenis ganja, alkohol, ekstasi dan sabu sabu selama 10 (sepuluh) tahun.

AD juga pernah membuka usaha studio photo, namun usahanya gagal karena uang yang ada justru digunakan untuk mengkonsumsi narkoba.


Analisis Masalah

Secara hubungan interpersonal, dapat berkomunikasi dengan baik dalam penerimaan informasi tetapi kurang baik dalam pemberian informasi.

Terkait fungsi sosial, AD dapat berinteraksi dengan baik. Interaksi dengan keluarga mempunyai hubungan yang baik. Namun menjadi kurang baik dengan anggota keluarga kurang, terutama dengan adiknya sejak menggunakan narkoba.

Berdasarkan informasi dari pekerja sosial, AD mengaku sudah merasa jenuh berada dalam jeratan narkoba. Namun setiap kali kembali ke teman temanya, dia juga kembali terjerat ke dalam pengaruh narkoba, dan tidak tahu bagaimana keluar dari jeratan tersebut.

AD bersedia dirujuk ke panti pun atas kesadarannya dan dorongan orang tua. Walaupun perlu proses dan waktu yang lama.

Dari hasil analisis pekerja sosial terhadap AD didapati bahwa :

  • AD berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah atau yang relatif cukup baik.
  • AD memiliki latar belakang pendidikan dan keagamaan dalam keluarga yang cukup kuat.
  • AD memiliki prestasi yang cukup baik, kareba dapat masuk ke Sekolah menengah pertama dan lanjutan favorit di kotanya.
  • Walaupun klien “AD” memiliki latar belakang seperti yang disebutkan di atas, namun tetap terjerumus dan menjadi penyalahgunaan narkoba.
  • Dan perilaku AD yang baik dan seakan normal, ternyata digunakan untuk menutupi ketergantungannya terhadap narkoba dan dinilai baik oleh keluarga dirumah


Fokus Masalah

  1. Dari identifikasi dan analisis pekerja sosial, yang menjadi fokus masalah AD adalah :
  2. Ketergantungan AD terhadap alkohol, ganja, ekstasi dan shabu dan lainnya.
  3. AD memerlukan pengaruh dan dukungan dari kelompok pergaulan (peer group) dan lingkungan sekitarnya.
  4. AD perlu kembali percaya diri, eksis di depan teman teman, dan memiliki daya kreatifitas yang mendukung hobinya tanpa ketergantungan pada narkoba.


Rencana Penanganan/Pemecahan Masalah

AD bersama pekerja sosial menyepakati untuk mengikuti aturan panti selama proses rehabilitasi. Selama menjalani proses rehabilitasi, AD akan mendapatkan proses pelayanan bimbingan Primary House, dengan metode Theraupetic Community. Tujuannya untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan biopsikososial dan spiritualnya, agar korban penyalahguna narkoba dapat merubah perilaku, pulih dan mandiri. Serta mengembalikan AD ke keluarga dan lingkungan sosialnya dengan penuh percaya diri.


Pelaksanaan Pemecahan Masalah

Menu dan sesi yang akan diikuti AD selama proses rehabilitasi, disusun dan dilakukan berdasarkan rencana pemecahan masalah yang dilakukan AD bersama pekerja sosial. Berikut merupakan catatan menu dan sesi yang disepakati AD dan pekerja sosial selama rehabilitasi.

  1. Program Family Support, pada kegiatan ini AD akan diberikan kesempatan untuk dapat pulang dan kembali terjadwal atau pihak panti mengundang keluarga untuk dapat memberikan dukungan kepada AD selama berada di panti.
  2. Program Bimbingan Mental dan Spiritual, AD mengikuti kegiatan keagamaan dan peribadatan sesuai dengan waktu pelaksanaan, serta aktivitas lain yang mendukungnya seperti olah raga dan kerja bakti membersihkan panti bersama yang lainnya.
  3. Program Bimbingan Sosial (TC/ Therapeutic Community), kegiatan ini memiliki sesi – sesi tersendiri, seperti pertemuan pagi, berbagi pengalaman dengan posisi melingkar, sesi diskusi sesuai tema tertentu, dan kegiatan lain yang merubah cara berpikir dan pandang terhadap nilai – nilai positif bagi diri dan lingkungannya.
  4. Program Resosiliasi, tahap ini dilakukan, jika AD sudah akan kembali ke tempat asalnya untuk memastikan kepada masyarakat sekitar, khususnya yang masih memiliki pencitraan negatif terhadap korban penyalahgunaan narkoba.


Kesimpulan


Narkoba dalam bentuk narkotika, obat-obatan terlarang, dan zat adiktif lainnya merupakan bahaya yang jelas nampak didepan mata kita. Namun rayuannya dapat menjerat siapa saja.


Seperti halnya pada kasus AD, mengapa sosok yang memiliki latar belakang keluarga yang baik dapat terjerumus pada masalah penyalahgunaan narkoba ? perlu diperhatikan juga kapan dan dimana dia mulai terjerumus narkoba ?.


Proses yang paling sulit dari rehabilitasi, selain memulihkan korban dari ketergantungan adalah merubah mindset keluarga dan lingkungan sekitarnya. Korban penyalahgunaan narkoba yang sudah pulih harus dirangkul, agar tidak relapse  karena kembali kepada pergaulannya yang ‘salah’.


Demikian laporan belajar dari panti bersama dengan pekerja sosial dan korban penyalahgunaan narkoba. Pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi pengalaman tidak harus dari pengalaman diri sendiri, karena pengalaman orang lain pun dapat dijadikan guru bagi kehidupan kita. Semoga bermanfaat.



Salam bebas narkoba


Popular posts from this blog

Enam Prinsip Dasar Pertolongan Kemanusiaan

21 Jenis Pelayanan Yang Meningkatkan Kesejahteraan

Masih Cari Judul

Pekerja Sosial sebagai Profesi Profesional

Menumbuhkan Kewirausahaan Sosial Penting

25 Kampus di Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial atau Pekerjaan Sosial

HAK-HAK PEREMPUAN, RINGKASAN REGULASI PEMERINTAH INDONESIA

Dukungan Psikososial

Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu : SLRT dan Puskesos